Biaya Resepsi Nikah di Ibu Kota Bikin Stress

3:17 PM


Sebelum w menemukan jodoh dan memutuskan menikah, dari tahun-tahun sebelumnya w sudah wanti-wanti menyampaikan dan menjelaskan keinginan w jika nanti menikah. Dari dulu w menginginkan pernikahan yang simple, w mau nikah di KUA atau akad nikah aja gak pakai resepsi, kemudian syukuran makan-makan direstoran dan hanya mengundang keluarga dan teman dekat aja.

Karena w termasuk orang yang perhitungan banget dan gak mau ribet, dari pada duit habis untuk resepsi nikah di gedung yang cuma beberapa jam doang mending duitnya dipakai untuk renovasi rumah jadi setelah menikah w dan pasangan bisa memiliki tempat tinggal yang nyaman. 

Orang tua w menerima rencana w, yang penting w cari dan dapat jodoh dulu. Dari pada w gak nikah-nikah akhirnya orang tua w meng iyakan dan menuruti apa yang w mau. Sampai akhirnya w menemukan pria yang pas dan cocok dengan w, saat w mengenalkan pria yang w pilih ke orang tua, mereka langsung setuju. 

Pada saat mau menuju proses lamaran, orang tua w menyampaikan konsep pernikahan yang gak sesuai dengan keinginan w. Bokap w ingin ada resepsi pernikahan diadakan di gedung, disitu w kaget, pada hal dari awal w uda menjelaskan pernikahan yang w inginkan dan mereka setuju. Tapi setelah w menemukan jodoh dan ingin menikah, bokap w tiba-tiba langsung berubah pikiran.

Dan rencana gagal karena pihak orang tua w gak setuju dengan rencana w dan pasangan. Maklum orang zaman dulu pemikirannya kolot, gak sama seperti anak zaman now. Takut baper di omongin sama orang, malu lah sama tetangga, nanti apa kata orang-orang, gengsi lah dan blaa blaa blaa blaa.

Rasanya emosi setiap membahas soal pernikahan dan w uda coba berkali-kali menjelaskan tapi bokap w gak mau ngerti dan akhirnya mala berantem terus, w marah karena gak sesuai dengan keinginan. W mengancam batal lamaran dan gak mau nikah kalau gak sesuai dengan keinginan w. 

Apalagi setelah menghitung-hitung biaya resepsi pernikahan di jakarta, mahal banget. Sewa gedung aja Rp 11.000.000,- pakai jasa WO hampir Rp 50.000.000,- belum lagi seserahan, mas kawin, sovenir, undangan, penginapan, transportasi, tiket pesawat PP batam-jakarta, dan lain-lain. 

Stress w mikirin biaya pernikahan yang cuma setengah hari tapi ngabisin uang lebih dari Rp 80.000.000,- kalau w dan pasangan sama-sama crazy rich asian atau minimal crazy rich indonesia deh (aamiin) gak masalah dengan uang segitu atau mau bikin resepsi nikah seminggu pun gak masalah, kalau orang tua mau bayarin tapi ini yang di bebankan ke anak dan pasangan. Masalahnya w dan pasangan sama-sama sedang meniti karir dan butuh perjuangan keras untuk memenuhi kebutuhan finasial. 

Dari pada menghamburkan uang sampai tabungan habis mending uangnya digunakan untuk kebutuhan setelah menikah, itu yang lebih penting. Setelah diskusi dengan pasangan w, akhirnya w mengalah dari pada gak nikah mending rencana renovasi rumah ditunda dulu, berharap setelah nikah dapat rezeki yang banyak dari Allah, aamiin. 

Dari kejadian ini w belajar agar ketika w dan pasangan menjadi orang tua nanti, kami harus menjadi orang tua yang bijaksana, jangan memaksakan kehendak sendiri dan akhinya mala membebankan anak. Nikah itu yang penting SAH bukan WAH, Nikah itu gak perlu MEWAH yang penting SAKINAH, MAWADAH, WARAHMAH.

You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook

cikpu.id

Instagram